Keharmonisan Diantara Sunan Kudus
Oleh : Rachmawati
I
Tidak
bisa dihindari lagi, sebagai negara kepulauan dimana beribu pulau terbentang
dari Sabang sampai Merauke, didalamnya berpenghuni ribuan kepala manusia, terdiri
atas berbagai keragaman suku, ras, bahasa daerah, agama, seni, dsb. Indonesia tentu
banyak melayangkan problematika.
Jika
kita mencoba menilik berbagai keragaman yang dimiliki Indonesia pasti tak akan
ada habisnya. Namun, ditengah keragaman tersebut jika tidak dijaga dan
meletakkannya dengan benar akan menimbulkan percik api perselisihan, maka
didalam persoalan yang melibatkan seluruh WNI diperlukan penegasan terhadap
contoh-contoh keharmonisan di negara sendiri.
Hidup Dalam Masyarakat Multikultural
Mengenai
masyarakat multikultural telah dibicarakan oleh C.W.
Watson dalam bukunya Multiculturalism, bahwa pola hubungan sosial antarindividu
di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup
berdampingan secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan
yang melekat pada tiap etnisitas sosial dan politiknya. Oleh karena itu, dalam
sebuah masyarakat multikultural sangat mungkin terjadi konflik vertikal dan
horizontal yang dapat menghancurkan masyarakat tersebut. (C.W. Watson,
1998)
Dari penjelasan Watson, kita dapat
mengambil kesimpulan bahwa masyarakat multicultural sangat rentan dengan
konflik yang dapat menghancurkan masyarakat sendiri. Untuk itu, masing-masing
individu harus menanamkan jiwa tolerannya dalam menghadapi segala perbedaan dan
siap hidup berdampingan secara damai.
Contoh
Nyata Hidup Harmonis
Ketika kita belajar untuk hidup
harmonis di tengah perbedaan, tentunya dibutuhkan contoh nyata di Indonesia
yang sampai sekarang masih bisa dikatakan sebagai bumbu dalam menjalani
keharmonisan. Selidik saja Kota Kretek atau kota Kudus. Dari awal sejarahnya
hingga sekarang keharmonisan antar masyarakatnya belum luntur meski
perkembangan dari tahun ke tahun.
Semuanya berawal dari kedatangan
Sunan Kudus, Sunan Kudus yang mulai masuk ke Kota Kudus membawa dampak yang
luar biasa. Salah satu bukti nyata yang pernah di torehkan Sunan Kudus adalah
terbangunnya menara yang sekarang ini menjadi icon Kota Kudus. Menara Kudus
sangat berbeda dari yang lain, Bangunan Menara Kudus merupakan perpaduan antara
Kebudayaan Hindu dan Kebudayaan Islam, sebuah bangunan masjid namun dengan menara dalam bentuk candi
dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu.
Sebagaimana kita ketahui, Jawa dulunya telah berkembang agama Hindu dan Budha
sebelum Islam masuk tentunya.
Jika kita telah belajar banyak
mengenai sejarah, tentunya masih ingat dengan dakwah Walisongo. Salah satu dari
walisongo yaitu Sunan Kudus, dalam dakwahnya beliau mencampurkan cara dakwahnya
dengan budaya Hindu dan Budha yang dapat kita lihat pada Menara Kudus. Bangunan
menaranya menyerupai bangunan umat Hindu dan Budha, tersusun dari batu bata
dimana bagian kepala menara berbentuk atap tumpang dari kayu jati dengan empat
saka guru.
Mengapa
Sunan Kudus berani membangun Menara bernuansa Hindu Islam? Ya, Jawabannya
karena Sunan Kudus hidup dan bertetangga di tengah-tengah masyarakat yang
berbeda agama. Karena itu beliau ingin masyarakat tidak canggung hidup dalam
satu lingkungan. Meskipun, pada keadaannya umat Hindu memiliki tempat ibadah sendiri.
Selain Menara Kudus, Masyarakat
sekitar Masjid Agung Kuduspun dapat dijadikan icon untuk membangun
keharmonisan. Kenapa bisa? Masyarakat disekitar masjid masih menjaga tradisi
yang merupakan permintaan dari Sunan Kudus yakni tidak memotong hewan kurban
sapi sewaktu perayaan Idul Adha. Tidak memotong kurban sapi mempunyai maksud
menghormati masyarakat penganut agama Hindu. Sehingga masyarakat menggantikan
sapi dengan hewan kerbau.
Bentuk penghormatan tersebut sampai
sekarangpun masih dijaga oleh masyarakat Kudus. Demi suatu keharmonisan,
keutuhan dan keseimbangan dalam bermasyarakat. Cara-cara yang demikian memang
sudah tertata sejak dibangunnya Masjid Agung Kudus tahun 1530, sekarang ini
tinggal kita yang menjaga dan mewariskan kebiasaan tersebut agar kelak tak
menepi dan terlupakan begitu saja.
Ketika masyarakat Kudus saling
bertoleransi dalam hal beragama, dimana agama dibawa dan melekat dalam diri
masing-masing individu tentunya perbedaan yang lain-lain seperti beda suku,
ras, bahasa daerah tidak menjadi penghalang untuk hidup harmonis bukan?
Perlukah
Penghormatan Ditengah Perbedaan?
Menghormati insan lain dalam
kehidupan bermasyarakat sangatlah penting karena kita sebagai Warga Negara
Indonesia yang terkenal dengan ramah tamahnya wajib mempunyai predikat sopan,
hormat, dan santun.
Jika kita mau berpikir lebih peka
lagi, sebenarnya perbedaan membawa dampak besar. Bagaimana bisa? Contoh: Di Indonesia banyak sekali ragam budaya
dari masing-masing daerah, kita dapat belajar banyak dari sana, tentu saja
tanpa melupakan kebudayaan asli yang memang sudah diturunkan bagi darah kita.
Belajar menggunakan bahasa daerah lain supaya sewaktu-waktu kita berkunjung di
daerah tersebut dapat berinteraksi dengan lancar tanpa adanya rasa canggung
atau merasa tidak penting berinteraksi
dengan mereka “masyarakat daerah lain”. Karena manusia makhluk social dan tidak
dapat melakukan segala sesuatu secara sendirian pasti membutuhkan bantuan orang
lain.
Ketika kita ingin dihormati,
hormatilah orang lain terlebih dahulu. Kalimat tersebut pasti sering kita
dengar dan kita ucapkan. Apakah kita
sudah menjalankan semua itu? Untuk menjalankan semua itu rasa-rasanya
memang susah-susah gampang. Pasalnya, ketika kita ingin menghormati orang lain
pastilah hati ikut berbicara. ‘Apakah orang ini lebih tua dari kita? Apakah
kita kenal dengan orang tersebut? Apa untungnya kita menghormatinya?’. Ironis
memang, penghormatan yang seharusnya tidak berbayar judtru sangat sulit untuk
diterapkan di kehidupan sehari-hari. Itulah penyebab kurangnya keharmonisan
diantara kita











