Minggu, 27 Oktober 2013

HARMONIS DI TENGAH PERBEDAAN


Keharmonisan Diantara Sunan Kudus
Oleh : Rachmawati I


Tidak bisa dihindari lagi, sebagai negara kepulauan dimana beribu pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke, didalamnya berpenghuni ribuan kepala manusia, terdiri atas berbagai keragaman suku, ras, bahasa daerah, agama, seni, dsb. Indonesia tentu banyak melayangkan problematika.
Jika kita mencoba menilik berbagai keragaman yang dimiliki Indonesia pasti tak akan ada habisnya. Namun, ditengah keragaman tersebut jika tidak dijaga dan meletakkannya dengan benar akan menimbulkan percik api perselisihan, maka didalam persoalan yang melibatkan seluruh WNI diperlukan penegasan terhadap contoh-contoh keharmonisan di negara sendiri.
Hidup Dalam Masyarakat Multikultural
Mengenai masyarakat multikultural telah dibicarakan oleh C.W. Watson dalam bukunya Multiculturalism, bahwa pola hubungan sosial antarindividu di masyarakat bersifat toleran dan harus menerima kenyataan untuk hidup berdampingan secara damai (peace co-exixtence) satu sama lain dengan perbedaan yang melekat pada tiap etnisitas sosial dan politiknya. Oleh karena itu, dalam sebuah masyarakat multikultural sangat mungkin terjadi konflik vertikal dan horizontal yang dapat menghancurkan masyarakat tersebut. (C.W. Watson, 1998)
Dari penjelasan Watson, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masyarakat multicultural sangat rentan dengan konflik yang dapat menghancurkan masyarakat sendiri. Untuk itu, masing-masing individu harus menanamkan jiwa tolerannya dalam menghadapi segala perbedaan dan siap hidup berdampingan secara damai.
Contoh Nyata Hidup Harmonis
            Ketika kita belajar untuk hidup harmonis di tengah perbedaan, tentunya dibutuhkan contoh nyata di Indonesia yang sampai sekarang masih bisa dikatakan sebagai bumbu dalam menjalani keharmonisan. Selidik saja Kota Kretek atau kota Kudus. Dari awal sejarahnya hingga sekarang keharmonisan antar masyarakatnya belum luntur meski perkembangan dari tahun ke tahun.
            Semuanya berawal dari kedatangan Sunan Kudus, Sunan Kudus yang mulai masuk ke Kota Kudus membawa dampak yang luar biasa. Salah satu bukti nyata yang pernah di torehkan Sunan Kudus adalah terbangunnya menara yang sekarang ini menjadi icon Kota Kudus. Menara Kudus sangat berbeda dari yang lain, Bangunan Menara Kudus merupakan perpaduan antara Kebudayaan Hindu dan Kebudayaan Islam, sebuah bangunan masjid namun dengan menara dalam bentuk candi dan berbagai ornamen lain yang bergaya Hindu. Sebagaimana kita ketahui, Jawa dulunya telah berkembang agama Hindu dan Budha sebelum Islam masuk tentunya.
            Jika kita telah belajar banyak mengenai sejarah, tentunya masih ingat dengan dakwah Walisongo. Salah satu dari walisongo yaitu Sunan Kudus, dalam dakwahnya beliau mencampurkan cara dakwahnya dengan budaya Hindu dan Budha yang dapat kita lihat pada Menara Kudus. Bangunan menaranya menyerupai bangunan umat Hindu dan Budha, tersusun dari batu bata dimana bagian kepala menara berbentuk atap tumpang dari kayu jati dengan empat saka guru.
            Mengapa Sunan Kudus berani membangun Menara bernuansa Hindu Islam? Ya, Jawabannya karena Sunan Kudus hidup dan bertetangga di tengah-tengah masyarakat yang berbeda agama. Karena itu beliau ingin masyarakat tidak canggung hidup dalam satu lingkungan. Meskipun, pada keadaannya umat Hindu memiliki tempat ibadah sendiri.
            Selain Menara Kudus, Masyarakat sekitar Masjid Agung Kuduspun dapat dijadikan icon untuk membangun keharmonisan. Kenapa bisa? Masyarakat disekitar masjid masih menjaga tradisi yang merupakan permintaan dari Sunan Kudus yakni tidak memotong hewan kurban sapi sewaktu perayaan Idul Adha. Tidak memotong kurban sapi mempunyai maksud menghormati masyarakat penganut agama Hindu. Sehingga masyarakat menggantikan sapi dengan hewan kerbau.
            Bentuk penghormatan tersebut sampai sekarangpun masih dijaga oleh masyarakat Kudus. Demi suatu keharmonisan, keutuhan dan keseimbangan dalam bermasyarakat. Cara-cara yang demikian memang sudah tertata sejak dibangunnya Masjid Agung Kudus tahun 1530, sekarang ini tinggal kita yang menjaga dan mewariskan kebiasaan tersebut agar kelak tak menepi dan terlupakan begitu saja.
            Ketika masyarakat Kudus saling bertoleransi dalam hal beragama, dimana agama dibawa dan melekat dalam diri masing-masing individu tentunya perbedaan yang lain-lain seperti beda suku, ras, bahasa daerah tidak menjadi penghalang untuk hidup harmonis bukan?
            Perlukah Penghormatan Ditengah Perbedaan?
            Menghormati insan lain dalam kehidupan bermasyarakat sangatlah penting karena kita sebagai Warga Negara Indonesia yang terkenal dengan ramah tamahnya wajib mempunyai predikat sopan, hormat, dan santun.
            Jika kita mau berpikir lebih peka lagi, sebenarnya perbedaan membawa dampak besar. Bagaimana bisa? Contoh: Di Indonesia banyak sekali ragam budaya dari masing-masing daerah, kita dapat belajar banyak dari sana, tentu saja tanpa melupakan kebudayaan asli yang memang sudah diturunkan bagi darah kita. Belajar menggunakan bahasa daerah lain supaya sewaktu-waktu kita berkunjung di daerah tersebut dapat berinteraksi dengan lancar tanpa adanya rasa canggung atau  merasa tidak penting berinteraksi dengan mereka “masyarakat daerah lain”. Karena manusia makhluk social dan tidak dapat melakukan segala sesuatu secara sendirian pasti membutuhkan bantuan orang lain.
            Ketika kita ingin dihormati, hormatilah orang lain terlebih dahulu. Kalimat tersebut pasti sering kita dengar dan kita ucapkan. Apakah kita sudah menjalankan semua itu? Untuk menjalankan semua itu rasa-rasanya memang susah-susah gampang. Pasalnya, ketika kita ingin menghormati orang lain pastilah hati ikut berbicara. ‘Apakah orang ini lebih tua dari kita? Apakah kita kenal dengan orang tersebut? Apa untungnya kita menghormatinya?’. Ironis memang, penghormatan yang seharusnya tidak berbayar judtru sangat sulit untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Itulah penyebab kurangnya keharmonisan diantara kita
           

Senin, 21 Oktober 2013

HINGGAPAN UNTUK 17 OKTOBER 2013

 Kamis (17/10)...

Realita yang musti dihadapi keluarga kami
Sehongok terpaal yang tidak pernah terbayangkan justru menggeliat begitu hebatnya,
menghujam seluruh badan
menggetarkan kepribadian
akhirnya, menyesakkan dada

Hari dimana semua tersadar dari aliran hipnotis yang buram
Hari dimana tercurah semua gumpalan-gumpalan maya
Hari dimana terasa sejuk, saat  wabah air mata menemani
Hari dimana damai memeluk, tatkala uluran tangan berpapasan diantara kami

BERJANJI

Untuk diri sendiri
Untuk keluarga
Untuk almamater
Demi keharmonisan dan prestise

AKHIR

Kelak dahaga ini akan terpuaskan
jika kekelan berujung pada kami

UNTUK SOSOK IBU

Demikian pengakuan kami
Demikian kisah kami setelah terungkap olehmu
Demikian hidup kami sesudah wejanganmu
Demikian , demikian, demikian dan terima kasih, Ibuku....



Catatan
Keluarga=KOMPAS
Ibu= Bu Rahaju
Ini merupakan sebuah peristiwa terdalam yang real kita alami pada hari itu. Kita mengecewakan Bu Rahaju, membuat beliau diam seribu bahasa. Membuat beliau jengkel. Tapi mengertilah, Bu sebenarnya kami pun tidak ingin seperti itu. 
Beri kami kesempatan kedua untuk memperbaiki dan membuat, ibu berdecak riuh. Jangan putuskan doamu untuk kami... :( ya, bu :)


*post:IR

Minggu, 13 Oktober 2013

MENANTI SENYUM DENI (SUMBANGAN SMA 1 MEJOBO PEDULI DENI)

Bantuan dari temen2 SMA 1 Mejobo, sudah sampai di tangan keluarga Deni, penderita kanker ganas.
Jumat (11/10) di kediaman Deni.
"Terima kasih anak-anak SMA 1 Mejobo, semoga amalnya di balas sama Allah. Dan anak-anak beserta bapak ibu guru diberi kesehatan dan sukses." Ujar guru SD Deni.
  ---
Berikut saya share foto2nya.

Dari kiri: Kakek Deni, Perwakilan SKI, Perwakilan Redaksi OASIS


Guru SD Deni dan Kakek Deni

Redaksi dan anggota SKI pamit pulang

Redaksi OASIS menggalang dana dan siswa "Dinda" XII IPA 1 tampak memberi santunannya
 
Duduk bersama mendengar penjelasan guru SD mengenai penyakit yang di dera Deni
















MASIH SAMA