TIMBULNYA GETARAN KAMI
Kami terlahir dari sebuah rahim. Rahim yang dititipkan lewat penciptaNya amatlah mulia. Sang pencipta kemudian memilah makhluk mana yang mampu mengemban tugas memikul kami. Ternyata, telah ditemukan jawabnya,
IBU. Harum namanya, estetik bicaranya, serta ampuh doanya. Manakala beliau ditunjuk sebagai pengemban tugas mulia itu kesanggupan telah menghardiknya, Diberikan waktu 9 bulan 10 hari olehNya, DariNya pula menitipkan kesayangannya pada Ibu.
Kami dan rahim
Entah darimana harus terceritakan semuanya, kami sudah lupa bagaimana kami disana. Ingatan kami telah terlumpuhkan semenjak 17 tahun minggat dari tempat itu.
Kemudian kami melihat dunia. Kata mereka dunia itu indah, kata mereka pula dunia itu kejam. Lalu, siapa yang benar mendefinisikan apa itu dunia? Entahlah, saat itu kami masih jabang bayi.
Saat itu pula, tangan ibuku yang siap 24 jam menuntunku. Beliau menjagaku, membelaiku, menidurkanku, menciumku, bahkan beliau memberikanku minuman yang segar lagi lezat. Ibu menyusuiku,
Lambat laun kami mulai tumbuh menjadi sosok lebih besar. Ibu mengajari kami berbicara bahasa Jawa. Meski kelu, kami menirukannya dengan gagap. Sampai berapa tahun lamanya kamipun kembali lupa,
Setidaknya, kami ingat ketika kami telah menunjukkan tanda-tanda -berjalan, bicara, corat-coret, nyanyi, dsb-. Ibu menitipkan kami pada sebuah rumah yang banyak ruangannya. Ternyata sebuah sekolah. Kali ini jelas kami masih mengingatnya, kami sekolah mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga sekarang SMA.
Lalu, ada apa?
Bu, biar kami ceritakan padamu, Selama besekolah telah kami temukan keluarga yang berbeda-beda. Di SD, kami masih malu-malu dengan sesama anggota kami begitu pula SMP. Tapi, pada SMA kami telah menemukan keluarga yang benar-benar solid, Bu. Kami menemukan sebuah wadah istimewa nun harmonis "KOMPAS" begitulah sebutan wadah itu.
Kami betah bersama para anggotanya. Biar kukenalkan, Bu. Mereka adalah 8 gentleman dan 17 putri. Di keluarga, kami terkendali oleh Afif, Bu. Seorang ketua kelas. Ya, meskipun sikap kami terkadang jarang menghiraukannya. Tapi dia sabar dan tenang kok, Bu.
Kami merasa nyaman tinggal bersama. Walaupun terkadang perselisihan dan cekcok menyumbat sedikit.Tapi tak apalah. Toh tanpa percekcokan tersebut kami menjadi lebih dewasa. (IR)
APA ITU?
BalasHapuslho itu sudah terjelaskan..
Hapus